Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘anak-anak’

Di mall kita usaha, di pasar kita jaya, di angkot kita kaya!


Sepenggal jargon itu adalah kata-kata penyemangat sahabat-sahabat kecil kita mengawali harinya sebagai pencopet. Mereka yang di mall, mereka yang di pasar, dan mereka yang di angkot, berlomba-lomba mencari sebanyak-banyaknya uang yang bisa mereka dapatkan. Suatu perjuangan yang keras bagi anak negeri ini. Anak-anak yang kata UUD 1945 harus dipelihara oleh negara. Yang harus mendapatkan hak atas pendidikan. Dan dilindungi dari kekerasan dan ancaman ketakutan.

Komet, Glen, Ribut, dan teman-temannya mendapatkan jauh dari itu. Untuk makan sehari-hari mereka harus mencopet. Itu pun hanya untuk makan. Pendidikan? Mereka semua tak bisa membaca, menulis, dan menghitung.

Di sisi lain, Jupri sedang memamerkan leptop barunya kepada Rohmah. Tercengang menikmati gambar ikan berwarna warni. Tahu bahwa leptop itu bisa digunakan untuk internet, untuk bisa mengetahui dunia. Kenyataanya leptop itu hanya dipakai untuk memandangi screensaver dan main game saja.

Realitas itulah yang diangkat Dedy Mizwar dan kawan-kawan dalam film bertajuk Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Komedi Satir yang mengungkapkan ‘keajaiban’ Indonesia.

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

Hati-hati memberikan buku bacaan kepada anak. Tidak semua yang berlabel buku anak-anak itu ‘aman’. Ibu Mafalda memergoki putrinya menonton film dewasa yang beradegan ciuman, lalu mematikan TV dan menyuruhnya membaca Thumbelina saja. Ternyata di dalamnya ada kisah raksasa yang suka memakan anak-anak. Mafalda berpikir, “Aneh! Bukannya untuk usia berapa pun berciuman lebih baik daripada berbuat kejahatan?”

Itulah sekilas bagaimana Mafalda dengan usianya yang masih kecil namun sudah begitu kritis memandang berbagai hal di sekitarnya. Di saat anak-anak seusianya lebih suka bermain boneka atau petak umpat, Mafalda lebih suka menghabiskan waktu luangnya dengan mendengarkan radio untuk mencari tahu kabar dunia di luar rumahnya. Mafalda juga senang terlibat dalam permainan “role play” bersama sahabat-sahabatnya dimana Mafalda akan berperan sebagai presiden.

Murid perempuan berpipi gembil dan berambut ijuk itu adalah tokoh rekaan kartunis Argentina, Joaquín Salvador Lavado, yang terkenal dengan nama Quino. Sejak terbit pertama kali pada tahun 1964, komik strip Mafalda langsung merebut hati pembaca Argentina. Celetukan-celetukannya mengkritik absurditas dunia orang dewasa dan kehidupan sosial pada umumnya. Cerdas, lugu, dan menggemaskan.

Bukan cuma di Argentina, ternyata. Meski komik strip Mafalda disudahi oleh Quino pada 1973, ia masih terus dibaca dan dicetak ulang. Komik ini total terkumpul menjadi 10 jilid dan sudah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa dunia. Bahkan, Umberto Eco pun memberikan pengantar pada edisi pertama versi Italia. Tidak hanya itu, pada 1976, Perserikatan Bangsa-Bangsa memakai Mafalda sebagai ilustrasi 10 tahun Konvensi Hak-hak Anak.(http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/20/03000289/celetukan.kritis.si.pipi.gembil)

Mafalda dan teman-temannya juga sering terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan memusingkan tentang bagaimana dunia bekerja. Namun mereka selalu punya jawaban menarik dari sisi lain untuk saling memuaskan tanda tanya itu.

Tengok juga Susanita, karib perempuan Mafalda yang selalu jengah dengan pelajaran-pelajaran eksakta di kelasnya karena ia belum pernah menemukan relevansi pelajaran fisika dengan cita-citanya sebagai ibu rumah tangga yang baik.

Manolito lain lagi. Sedikit sering cekcok dengan Mafalda yang pro sosialisme, Manolito kerap kali berbangga dengan ideologi kapitalisme yang ia dapatkan secara tidak langsung dari kesehariannya membantu sang ayah di toko kelontongnya. Bagi Manolito, dimana ada permintaan selalu akan ada penawaran. Sialnya, cara penawarannya akan selalu halal. Termasuk mencoret-coret halte bus yang notabenenya fasilitas publik dengan tulisan : Toko Monolito, Pasti Murah.

Ada juga Felipe dan Miguelito yang selalu menambah rasa komik asal Argentina karangan Mr. Quino ini. Keduanya sama-sama sering linglung tentang hal-hal disekitarnya. Dan Mafalda akan senang sekali berdebat panjang dengan keduanya jika yang mereka tanyakan sudah berkutat pada isu globalisasi.

Terakhir, yang baru muncul di jilid ke-4, Guillermo. Adik baru Mafalda yang sepertinya punya watak yang tak jauh dari kakaknya.

Bacalah komik ini, selain mengocok perut, kisah keseharian Mafalda dan teman-temannya sanggup membuat Anda berdecak kagum: Bagaimana bisa anak sekecil itu sudah punya pertanyaan-pertanyaan sebesar itu?

diulas oleh: Arlinka Fayola

Read Full Post »