Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2010

Hari ini teman-teman Rombong Belajar Kukusan (RBK) mengadakan permainan sejenis Game of Life versi manual agar adik-adik pengunjung setia RBK makin mengenal diri dan kehidupannya. Caranya sangat mudah, kami membuat sejenis permainan ular tangga di papan tulis dan menyiapkan sebuah dadu sebagai acuan langkah setiap peserta permainan. Terdapat 15 kolom dengan beragam pertanyaan. Tapiiii.. pertanyaannya bukan hal-hal yang bersifat akademik. Sebaliknya, kami mencoba mengajak para adik RBK mengenal lebih jauh tentang dirinya sendiri. Misalnya:

1. siapa idola kamu? mengapa?

2. siapa guru kesenangan dan pelajaran kesukaanmu?

3. Siapa orang yang paling sering membuatmu tertawa?

4. Bantuan apa yang akan kamu berikan jika terpilih sebagai relawan di daerah bencana?

5. Sebutkan 10 kata dalam bahasa Inggris yang kamu ketahui!

6. Hadiah apa yang akan kamu berikan untuk sahabat baikmu?

7. Apa yang akan kamu beli/lakukan jika mendapatkan uang 1 juta rupiah?

dan masih banyak pertanyaan lainnya yang harus mereka jawab sesuai angka dadu yang keluar. Pertanyaannya bukan jenis pertanyaan tertutup, melainkan bentuk terbuka yang membuat mereka dapat lebih bebas mengekspresikan pikiran dan pendapat mereka tanpa perlu takut salah. Pada setiap kolom, adik-adik RBK akan belajar bagaimana enaknya jika pendapat kita dihargai, bagaimana rasanya mempertimbangkan perasaan orang lain, bagaimana rumitnya memutuskan tindakan yang harus segera dilakukan dan masih banyak lain.

Dari sekian banyak pertanyaan, kami sempat tertegun dengan jawaban dari salah satu adik kami dengan usia paling kecil yang duduk di kelas 2 SD. Dia “tersangkut” pada kolom pertanyaan: apa yang akan kamu beli/lakukan jika mendapat uang 1 Juta rupiah?. Dengan polos dan mata penuh harap, ia menjawab dengan sederhana: “ingin membeli kasur agar bisa ditempati berdua dengan kakak karena sampai sekarang kalau tidur masih di ubin.” Mendengar jawaban tersebut, kami yang awalnya mengira uang 1 juta tiada berarti justru dibuat terharu dengan jawaban seorang anak berusia 8 tahun itu. Sang kakak yang kebetulan sedang ikut bermain pun ikut mengangguk dan tersenyum seolah mengamini harapan sang adik. Siapa sangka, anak sekecil itu punya hati sebesar itu? ia hanya ingin punya kasur agar bisa dibuat tidur bersama kakaknya sendiri. Sungguh mulia.

Permainan “jalan kehidupan” ini ditutup dengan sebuah kolom yang berisi pertanyaan: “sebutkan 2 harapanmu untuk Indonesia?”. Lagi-lagi kami mendapati jawaban tak terduga dari adik-adik RBK, seperti:

1. Indonesia lebih aman dan kuat

2. tidak ada gempa dan gunung meletus lagi

3. Indonesia menang dalam pertandingan AFF.

hingga jawaban, “Semoga harga cabe turuuuuun!!!”.

 

ditulis oleh: Fitri Arlinkasari

Advertisements

Read Full Post »

Tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsur budaya. Materi yang dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu pula kegiatan-kegiatan mereka dan bentuk-bentuk yang dikerjakan juga budaya.

Agaknya pendekatan teori sosial budaya di atas tak berlebihan mengingat apa yang dilakukan oleh orang tua kita akan sangat melekat dalam diri kita, termasuk kepribadian dan bagaimana cara kita memandang serta memperlakukan dunia.

Teringat dengan jelas betapa karena ayah saya selalu berespon keras setiap saya berbohong, maka hingga kini pun saya paling benci dibohongi. Pun saat ibu saya begitu murka ketika tahu saya lalai mengerjakan tugas, membuat saya sekarang tak sudi dipertemukan dengan perilaku tidak disiplin.

Jauh sebelum manusia beranjak dewasa dan punya kuasa atas dirinya sendiri, mereka adalah sama: janin yang kemudian bertumbuh menjadi bayi. Perbedaan dari para manusia itu pun dimulai ketika mereka sukses menyelinap keluar dari liang rahim dan untuk pertama kalinya membuka matas atas dunia yang selama ini disinggahi kedua orang tuanya.

Sejak kali pertama bayi manusia menghirup oksigen, sejak itulah mereka mempelajari budaya dan mulai tunduk patuh pada nilai-nilai budayanya. Semua gambaran pembelajaran budaya sedari bayi ini saya dapatkan secara nyata dari film berjudul Babies yang baru minggu lalu saya tonton.

Dalam film tersebut dikisahkan tentang empat bayi yang tumbuh dalam kondisi geografis dan budaya yang berbeda-beda. Bayi pertama yang ditampilkan adalah seorang bayi Afrika tulen yang sejak lahir sudah terbiasa dengan teriknya mentari, kulit yang langsung terpapar radiasi matahari karena tak berpakaian, padang pasir dan aneka satwa lepas di tanah Afrika sana.

Bayi kedua seolah mengajak lari para penontonnya, saya diajak untuk mengintip indahnya tanah Mongolia dengan gugusan sabana-stepanya. Si bayi Mongol adalah seorang anak perempuan yang sedari lahir sudah dililit kuat tubuhnya dengan bedong hingga ia berusia kurang lebih 5 bulan. Bayi mongol dengan ibu yang seorang peternak, nampaknya amat lumrah ikut bermain dengan para sapi dan ikut “merumput”.

Bayi berikutnya yang tak kalah sipit adalah bayi Tokyo. Dengan kehidupan yang jauh lebih modern dibandingkan bayi Afrika dan bayi Mongol, bayi Tokyo sejak masih berada dalam kandungan sudah terbiasa dengan ritme musik sebagai peneman senam hamil sang ibu. Begitu lahirpun ia sudah mendapat cukup banyak fasilitas seperti permainan dan kunjungan liburan ke kebun binatang. Sayang, terlalu sibuknya kedua orang tua sang bayi, membuat ia juga cukup sering ditinggalkan dalam ruangan bersama permainan yang mulai bosan ia jamah.

Terakhir, bayi Amerika. Adalah dia yang lahir serta tumbuh di kondisi masyarakat yang jauh lebih jetset dan modern. Di usianya yang masih sangat belia, sang ibu sudah memperkenalkannya mandi menggunakan shower dan swirl pool. Tak hanya itu, ia lebih dini mendapatkan pengajaran baca tulis dan hitung menghitung. Konon, pengajaran usia dini dipercaya akan memabantunya lebih sigap dalam menjawab tantangan zaman.

Dari keempat bayi itu, para penonton akan belajar banyak tanpa merasa digurui. Kita semua akan melihat bahwa ada nilai yang diturunkan dari seorang ibu pada anaknya, dan ada “tata-cara” yang ditularkan dari lingkungan kepada individunya. Segala nilai, tata-cara, cara pandang, kepercayaan yang saling mengaduk itulah yang kemudian kita kenal secara hemat dengan istilah BUDAYA.

Ya, dengan cara apapun, seorang anak ketika terlahir untuk pertama kalinya maka ia akan belajar berbudaya. Hingga kelak ketika dewasa ia bisa mempertahankan budayanya, dan tidaklah mustahil kemudian meleburkannya dengan budaya baru. Sebab budaya, sekalipun diwariskan dan ditularkan tetap memiliki sisi toleransi yang beriring sama cepatnya dengan perubahan zaman. Tanpa sisi itu, seorang anak tentu akan sulit menanggapi perubahan yang terjadi di zamannya.

Di akhir film, sempat terlintas dalam benak saya: bagaimana jika akhirnya keempat bayi itu benar-benar bertemu dan dipersatukan dalam satu lingkungan baru. Tidakkah akan melahirkan kebudayaan yang baru sekaligus kaya? pasti menarik!

Diulas oleh: Fitri Arlinkasari

Read Full Post »