<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Publite&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://publite.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://publite.wordpress.com</link>
	<description>karena pengetahuan terlalu berharga untuk disimpan sendiri.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 Dec 2010 14:06:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='publite.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/edbb6eb23b88f43c1bde89864da90e3e?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Publite&#039;s Blog</title>
		<link>http://publite.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://publite.wordpress.com/osd.xml" title="Publite&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://publite.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>ketika si adik ingin berbagi kasur dengan kakaknya</title>
		<link>http://publite.wordpress.com/2010/12/25/ketika-si-adik-ingin-berbagi-kasur-dengan-kakaknya/</link>
		<comments>http://publite.wordpress.com/2010/12/25/ketika-si-adik-ingin-berbagi-kasur-dengan-kakaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Dec 2010 14:06:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ya Basta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://publite.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini teman-teman Rombong Belajar Kukusan (RBK) mengadakan permainan sejenis Game of Life versi manual agar adik-adik pengunjung setia RBK makin mengenal diri dan kehidupannya. Caranya sangat mudah, kami membuat sejenis permainan ular tangga di papan tulis dan menyiapkan sebuah dadu sebagai acuan langkah setiap peserta permainan. Terdapat 15 kolom dengan beragam pertanyaan. Tapiiii.. pertanyaannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=publite.wordpress.com&amp;blog=12633188&amp;post=38&amp;subd=publite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini teman-teman Rombong Belajar Kukusan (RBK) mengadakan permainan sejenis Game of Life versi manual agar adik-adik pengunjung setia RBK makin mengenal diri dan kehidupannya. Caranya sangat mudah, kami membuat sejenis permainan ular tangga di papan tulis dan menyiapkan sebuah dadu sebagai acuan langkah setiap peserta permainan. Terdapat 15 kolom dengan beragam pertanyaan. Tapiiii.. pertanyaannya bukan hal-hal yang bersifat akademik. Sebaliknya, kami mencoba mengajak para adik RBK mengenal lebih jauh tentang dirinya sendiri. Misalnya:</p>
<p>1. siapa idola kamu? mengapa?</p>
<p>2. siapa guru kesenangan dan pelajaran kesukaanmu?</p>
<p>3. Siapa orang yang paling sering membuatmu tertawa?</p>
<p>4. Bantuan apa yang akan kamu berikan jika terpilih sebagai relawan di daerah bencana?</p>
<p>5. Sebutkan 10 kata dalam bahasa Inggris yang kamu ketahui!</p>
<p>6. Hadiah apa yang akan kamu berikan untuk sahabat baikmu?</p>
<p>7. Apa yang akan kamu beli/lakukan jika mendapatkan uang 1 juta rupiah?</p>
<p>dan masih banyak pertanyaan lainnya yang harus mereka jawab sesuai angka dadu yang keluar. Pertanyaannya bukan jenis pertanyaan tertutup, melainkan bentuk terbuka yang membuat mereka dapat lebih bebas mengekspresikan pikiran dan pendapat mereka tanpa perlu takut salah. Pada setiap kolom, adik-adik RBK akan belajar bagaimana enaknya jika pendapat kita dihargai, bagaimana rasanya mempertimbangkan perasaan orang lain, bagaimana rumitnya memutuskan tindakan yang harus segera dilakukan dan masih banyak lain.</p>
<p>Dari sekian banyak pertanyaan, kami sempat tertegun dengan jawaban dari salah satu adik kami dengan usia paling kecil yang duduk di kelas 2 SD. Dia &#8220;tersangkut&#8221; pada kolom pertanyaan: <em>apa yang akan kamu beli/lakukan jika mendapat uang 1 Juta rupiah?. </em>Dengan polos dan mata penuh harap, ia menjawab dengan sederhana: <em>&#8220;ingin membeli kasur agar bisa ditempati berdua dengan kakak karena sampai sekarang kalau tidur masih di ubin.&#8221;</em> Mendengar jawaban tersebut, kami yang awalnya mengira uang 1 juta tiada berarti justru dibuat terharu dengan jawaban seorang anak berusia 8 tahun itu. Sang kakak yang kebetulan sedang ikut bermain pun ikut mengangguk dan tersenyum seolah mengamini harapan sang adik. Siapa sangka, anak sekecil itu punya hati sebesar itu? ia hanya ingin punya kasur agar bisa dibuat tidur bersama kakaknya sendiri. Sungguh mulia.</p>
<p>Permainan &#8220;jalan kehidupan&#8221; ini ditutup dengan sebuah kolom yang berisi pertanyaan: &#8220;<em>sebutkan 2 harapanmu untuk Indonesia?&#8221;</em>. Lagi-lagi kami mendapati jawaban tak terduga dari adik-adik RBK, seperti:</p>
<p>1. Indonesia lebih aman dan kuat</p>
<p>2. tidak ada gempa dan gunung meletus lagi</p>
<p>3. Indonesia menang dalam pertandingan AFF.</p>
<p>hingga jawaban, <em>&#8220;Semoga harga cabe turuuuuun!!!&#8221;.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ditulis oleh: Fitri Arlinkasari</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/publite.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/publite.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/publite.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/publite.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/publite.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/publite.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/publite.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/publite.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/publite.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/publite.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/publite.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/publite.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/publite.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/publite.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=publite.wordpress.com&amp;blog=12633188&amp;post=38&amp;subd=publite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://publite.wordpress.com/2010/12/25/ketika-si-adik-ingin-berbagi-kasur-dengan-kakaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbeb4ab75646fd1531ddb5e96e00c964?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pohonilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Babies: merawat anak, memelihara kebudayaan</title>
		<link>http://publite.wordpress.com/2010/12/19/babies-merawat-anak-memelihara-kebudayaan/</link>
		<comments>http://publite.wordpress.com/2010/12/19/babies-merawat-anak-memelihara-kebudayaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Dec 2010 15:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ya Basta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://publite.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsur budaya. Materi yang dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu pula kegiatan-kegiatan mereka dan bentuk-bentuk yang dikerjakan juga budaya. Agaknya pendekatan teori sosial budaya di atas tak berlebihan mengingat apa yang dilakukan oleh orang tua kita akan sangat melekat dalam diri kita, termasuk kepribadian dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=publite.wordpress.com&amp;blog=12633188&amp;post=30&amp;subd=publite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><img class="alignleft" title="publikasi film Babies" src="http://publite.files.wordpress.com/2010/12/babiesposter.jpg?w=180&#038;h=263" alt="" width="180" height="263" /></p>
<p><em>Tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsur budaya. Materi yang dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu pula kegiatan-kegiatan mereka dan bentuk-bentuk yang dikerjakan juga budaya.</em></p></blockquote>
<p>Agaknya pendekatan teori sosial budaya di atas tak berlebihan mengingat apa yang dilakukan oleh orang tua kita akan sangat melekat dalam diri kita, termasuk kepribadian dan bagaimana cara kita memandang serta memperlakukan dunia.</p>
<p>Teringat dengan jelas betapa karena ayah saya selalu berespon keras setiap saya berbohong, maka hingga kini pun saya paling benci dibohongi. Pun saat ibu saya begitu murka ketika tahu saya lalai mengerjakan tugas, membuat saya sekarang tak sudi dipertemukan dengan perilaku tidak disiplin.</p>
<p>Jauh sebelum manusia beranjak dewasa dan punya kuasa atas dirinya sendiri, mereka adalah sama: janin yang kemudian bertumbuh menjadi bayi. Perbedaan dari para manusia itu pun dimulai ketika mereka sukses menyelinap keluar dari liang rahim dan untuk pertama kalinya membuka matas atas dunia yang selama ini disinggahi kedua orang tuanya.</p>
<p>Sejak kali pertama bayi manusia menghirup oksigen, sejak itulah mereka mempelajari budaya dan mulai tunduk patuh pada nilai-nilai budayanya. Semua gambaran pembelajaran budaya sedari bayi ini saya dapatkan secara nyata dari film berjudul Babies yang baru minggu lalu saya tonton.</p>
<p>Dalam film tersebut dikisahkan tentang empat bayi yang tumbuh dalam kondisi geografis dan budaya yang berbeda-beda. Bayi pertama yang ditampilkan adalah seorang bayi Afrika tulen yang sejak lahir sudah terbiasa dengan teriknya mentari, kulit yang langsung terpapar radiasi matahari karena tak berpakaian, padang pasir dan aneka satwa lepas di tanah Afrika sana.</p>
<p>Bayi kedua seolah mengajak lari para penontonnya, saya diajak untuk mengintip indahnya tanah Mongolia dengan gugusan sabana-stepanya. Si bayi Mongol adalah seorang anak perempuan yang sedari lahir sudah dililit kuat tubuhnya dengan bedong hingga ia berusia kurang lebih 5 bulan. Bayi mongol dengan ibu yang seorang peternak, nampaknya amat lumrah ikut bermain dengan para sapi dan ikut &#8220;merumput&#8221;.</p>
<p>Bayi berikutnya yang tak kalah sipit adalah bayi Tokyo. Dengan kehidupan yang jauh lebih modern dibandingkan bayi Afrika dan bayi Mongol, bayi Tokyo sejak masih berada dalam kandungan sudah terbiasa dengan ritme musik sebagai peneman senam hamil sang ibu. Begitu lahirpun ia sudah mendapat cukup banyak fasilitas seperti permainan dan kunjungan liburan ke kebun binatang. Sayang, terlalu sibuknya kedua orang tua sang bayi, membuat ia juga cukup sering ditinggalkan dalam ruangan bersama permainan yang mulai bosan ia jamah.</p>
<p>Terakhir, bayi Amerika. Adalah dia yang lahir serta tumbuh di kondisi masyarakat yang jauh lebih jetset dan modern. Di usianya yang masih sangat belia, sang ibu sudah memperkenalkannya mandi menggunakan shower dan swirl pool. Tak hanya itu, ia lebih dini mendapatkan pengajaran baca tulis dan hitung menghitung. Konon, pengajaran usia dini dipercaya akan memabantunya lebih sigap dalam menjawab tantangan zaman.</p>
<p>Dari keempat bayi itu, para penonton akan belajar banyak tanpa merasa digurui. Kita semua akan melihat bahwa ada nilai yang diturunkan dari seorang ibu pada anaknya, dan ada &#8220;tata-cara&#8221; yang ditularkan dari lingkungan kepada individunya. Segala nilai, tata-cara, cara pandang, kepercayaan yang saling mengaduk itulah yang kemudian kita kenal secara hemat dengan istilah BUDAYA.</p>
<p>Ya, dengan cara apapun, seorang anak ketika terlahir untuk pertama kalinya maka ia akan belajar berbudaya. Hingga kelak ketika dewasa ia bisa mempertahankan budayanya, dan tidaklah mustahil kemudian meleburkannya dengan budaya baru. Sebab budaya, sekalipun diwariskan dan ditularkan tetap memiliki sisi toleransi yang beriring sama cepatnya dengan perubahan zaman. Tanpa sisi itu, seorang anak tentu akan sulit menanggapi perubahan yang terjadi di zamannya.</p>
<p>Di akhir film, sempat terlintas dalam benak saya: bagaimana jika akhirnya keempat bayi itu benar-benar bertemu dan dipersatukan dalam satu lingkungan baru. Tidakkah akan melahirkan kebudayaan yang baru sekaligus kaya? pasti menarik!</p>
<p>Diulas oleh: Fitri Arlinkasari</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/publite.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/publite.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/publite.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/publite.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/publite.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/publite.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/publite.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/publite.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/publite.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/publite.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/publite.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/publite.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/publite.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/publite.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=publite.wordpress.com&amp;blog=12633188&amp;post=30&amp;subd=publite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://publite.wordpress.com/2010/12/19/babies-merawat-anak-memelihara-kebudayaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbeb4ab75646fd1531ddb5e96e00c964?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pohonilmu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://publite.files.wordpress.com/2010/12/babiesposter.jpg?w=205" medium="image">
			<media:title type="html">publikasi film Babies</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perpustakaan Kami&#8230;</title>
		<link>http://publite.wordpress.com/2010/11/11/perpustakaan-kami/</link>
		<comments>http://publite.wordpress.com/2010/11/11/perpustakaan-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Nov 2010 16:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ya Basta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://publite.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama tak menyapa kawan-kawan semua. Nampaknya waktu membuat kita banyak berubah namun semoga tak menambah jarak. Sebaliknya, PUBLITE akan mencoba untuk tetap hadir sebagai salah satu sumber pengetahuan alternatif yang bisa diakses oleh siapa saja. Musik, buku, film, hadir semua untuk kawan semua. Kabar teranyar dari PUBLITE adalah kami telah mendirikan sebuah perpustakaan publik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=publite.wordpress.com&amp;blog=12633188&amp;post=26&amp;subd=publite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama tak menyapa kawan-kawan semua. Nampaknya waktu membuat kita banyak berubah namun semoga tak menambah jarak. Sebaliknya, PUBLITE akan mencoba untuk tetap hadir sebagai salah satu sumber pengetahuan alternatif yang bisa diakses oleh siapa saja. Musik, buku, film, hadir semua untuk kawan semua.</p>
<p>Kabar teranyar dari PUBLITE adalah kami telah mendirikan sebuah perpustakaan publik di kawasan Depok, Jawa Barat sejak Mei 2010. Kesibukan komunitas Ya Basta menganggas dan mewujudkan perpustakaan publik ini agaknya cukup menyiata waktu dan tenaga kami hingga kami lupa bahwa masih ada satu ruang lain yakni PUBLITE yang juga perlu diurus.</p>
<p>Kedepannya, PUBLITE akan tetap hadir sebagai fasilitas pendukung perpustakaan Rombong Belajar Kukusan (RBK) dengan menghadirkan beragam informasi menarik seputar kegiatan di RBK dan tentu saja pengetahuan yang layak anda raup sebanyak-banyaknya.</p>
<p>Sekian dulu dan sampai jumpa!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/publite.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/publite.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/publite.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/publite.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/publite.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/publite.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/publite.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/publite.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/publite.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/publite.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/publite.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/publite.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/publite.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/publite.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=publite.wordpress.com&amp;blog=12633188&amp;post=26&amp;subd=publite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://publite.wordpress.com/2010/11/11/perpustakaan-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbeb4ab75646fd1531ddb5e96e00c964?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pohonilmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(Ulasan Film) Alangkah Lucunya (Negeri Ini): satir politik tanpa solusi</title>
		<link>http://publite.wordpress.com/2010/04/18/ulasan-film-alangkah-lucunya-negeri-ini-satir-politik-tanpa-solusi/</link>
		<comments>http://publite.wordpress.com/2010/04/18/ulasan-film-alangkah-lucunya-negeri-ini-satir-politik-tanpa-solusi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 02:44:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ya Basta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[satir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://publite.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Di mall kita usaha, di pasar kita jaya, di angkot kita kaya! Sepenggal jargon itu adalah kata-kata penyemangat sahabat-sahabat kecil kita mengawali harinya sebagai pencopet. Mereka yang di mall, mereka yang di pasar, dan mereka yang di angkot, berlomba-lomba mencari sebanyak-banyaknya uang yang bisa mereka dapatkan. Suatu perjuangan yang keras bagi anak negeri ini. Anak-anak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=publite.wordpress.com&amp;blog=12633188&amp;post=13&amp;subd=publite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Di mall kita usaha, di pasar kita jaya, di angkot kita kaya!</em></p>
<p style="text-align:center;"><em><a href="http://publite.files.wordpress.com/2010/04/lucunya1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-16" title="lucunya negeri ini" src="http://publite.files.wordpress.com/2010/04/lucunya1.jpg?w=230&#038;h=165" alt="" width="230" height="165" /></a><br />
</em></p>
</blockquote>
<p>Sepenggal jargon itu adalah kata-kata penyemangat sahabat-sahabat kecil kita mengawali harinya sebagai pencopet. Mereka yang di mall, mereka yang di pasar, dan mereka yang di angkot, berlomba-lomba mencari sebanyak-banyaknya uang yang bisa mereka dapatkan. Suatu perjuangan yang keras bagi anak negeri ini. Anak-anak yang kata UUD 1945 harus dipelihara oleh negara. Yang harus mendapatkan hak atas pendidikan. Dan dilindungi dari kekerasan dan ancaman ketakutan.</p>
<p>Komet, Glen, Ribut, dan teman-temannya mendapatkan jauh dari itu. Untuk makan sehari-hari mereka harus mencopet. Itu pun hanya untuk makan. Pendidikan? Mereka semua tak bisa membaca, menulis, dan menghitung.</p>
<p>Di sisi lain, Jupri sedang memamerkan leptop barunya kepada Rohmah. Tercengang menikmati gambar ikan berwarna warni. Tahu bahwa leptop itu bisa digunakan untuk internet, untuk bisa mengetahui dunia. Kenyataanya leptop itu hanya dipakai untuk memandangi screensaver dan main game saja.</p>
<p>Realitas itulah yang diangkat Dedy Mizwar dan kawan-kawan dalam film bertajuk Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Komedi Satir yang mengungkapkan ‘keajaiban’ Indonesia.</p>
<p><span id="more-13"></span>Keseluruhan film dipenuhi satir2 politik yang cerdas. Jauh dari itu film ini membuka mata kita semua. Tentang pendidikan, tentang pengangguran, tentang kerasnya hidup di jalanan, serta kritik pada penguasa negeri ini. Tanpa pemahaman, filmi ini hanya akan sekedar menjadi komedi belaka. Tanpa tahu apa maksud indonesia raya dinyanyikan dan disertai “Amiiinnnn.” Tidak merasa adanya sindiran ketika si calon anggota dewan hanya memandangi gambar ikan di leptopnya. Dan tertawa ketika seorang waria diseret sat pol PP. Semoga para anggota dewan yang menonton cukup cerdas, agar satir yang ditampilkan tak sekedar menjadi humor saja.</p>
<p><strong>Pendidikan Tidak Menjamin Kesejahteraan</strong></p>
<p>Buktinya, Muluk yang menyandang gelar Sarjana Manajemen (atau sarjana Ekonomi-red) mengalami kesulitan mecari kerja. Begitu juga yang dialami Syamsul yang menyandang title Sarjana Pendidikan. Sementara dua kakak Rohmah yang hanya lulusan Tsanawiyah dan Madrasah (CMIIW) sukses dengan kios dan konveksi sablonnya.</p>
<p>Satu realita yang kita hadapi sehari-hari. Betapa banyak sarjana yang menganggur. Sebagian yang lebih beruntuk beralih profesi. Berdagang, sopir angkutan, bahkan pemulung. Pengangguran merupakan fenomena sosial yang menjadi permasalahan di negara kita. Apakah kita harus menyalahkan lapangan kerja yang kurang, atau sistem pendidikan kita yang dibuat untuk mencetak buruh. Yang jelas pengangguran dan kemiskinan merupakan persoalan yang kompleks, yang membutuhkan penanganan komprehensif.</p>
<p><strong>Pendidikan yang tidak membebaskan</strong></p>
<p>Itulah kurikulum kita. Pendidikan yang tidak membebaskan. Dimana kita selalu diajar dengan buku dan mendengarkan kata Pak/Bu Guru. Dimana kita disajikan berbagai teori yang seringkali ga <em>match</em> sama realita. Dimana kita selalu dihadapkan dengan papan tulis, pinsil, buku, meja kayu, dan seragam yang kaku.</p>
<p>“Kalian boleh menulis dengan cara apapun, asal hasilnya menjadi huruf A.” Satu kritik  terhadap pendidikan kita yang seringkali dipenuhi kata harus. Memang lucu melihat cara2 mereka dalam menulis huruf A. namun kebebesan menentukan kemauan anak-anak untuk belajar.</p>
<p>Tengoklah apa yang dilakukan sebuah lembaga pendidikan alternatif Qori’ah Thoyibah. Atau mungkin ada di antara teman-teman yang sudah membaca buku Toto Chan. Mereka menentukan kurikulum mereka sendiri. Mereka boleh memilih pelajaran mana yang ingin mereka pelajari terlebih dahulu. Sistem belajar mereka sungguh menyenangkan, dinamis, dan jauh dari membosankan.</p>
<p>Suatu kali saya bertemu dengan Bapak Utomo Dananjaya. Pada hari yang sama saya diperlihatkan kegiatan di Qori’ah Thoyibah melalu video singkat. Kegiatan yang benar-benar mencari ilmu pengetahuan. Bukan sekedar mencari nilai. Adakah relevansi seragam dengan kecerdasan? Adakah relevansi definisi absolut dari sebuah buku dengan pemahaman murid? Maka lepaskan semua ketidakbebasan. Karena ilmu pengetahuan jauh lebih bebas, jauh lebih liar, dan jauh lebih luas.</p>
<p>Mengejar nilai, itulah yang diterapkan di sekolah-sekolah konvensional. Dengan sistem kaku yang menjemukan. Yang memberikan nilai kuantitatif tanpa ada relasinya dengan kecerdasan. Suatu sistem yang juga dikritik lewat film India 3idiots. Suatu sistem yang juga dilanggengkan di Indonesia.</p>
<p><strong>Koruptor: Profesi untuk yang Berpendidikan</strong></p>
<p>Lagi-lagi pendidikan dikritik. Pendidikan membuat orang menjadi pintar. Bukan hanya lebih pintar dalam mengelola negara, tetapi juga lebih pintar mengeruk uang negara. Nyatanya pendidikan tidak membuat orang taat hukum. Pendidikan tidak membuat orang mampu membedakan mana uang mereka dan yang bukan. Pendidikan tidak membuat orang bisa menbedakan yang benar dan yang salah. Tanpa pendidikan orang hanya bisa jadi copet. Dengan pendidikan, orang bisa jadi koruptor.</p>
<p>“Kalo korupsi bisa kan bg? Kan kita sudah berpendidikan.”</p>
<p><strong>Sebuah Dilema: Budi Luhur vs Haram</strong></p>
<p>Yang dilakukan Muluk, Pipit, dan Syamsul, adalah satu tindakan progresif untuk mengembangkan Komet dan kawan-kawan. Tindakan mereka patut diacungi jempol. Walau bertahap, namun arah mereka jelas, untuk membantu teman-teman kecil mereka meninggalkan profesi haram mereka. Toh segala sesuatunya tidak bisa instan. Nyatanya mereka tetap butuh uang. Dan jadilah mereka digaji dari hasil mencopet murid-murid mereka.</p>
<p>Kenyataan itu begitu pahit ditelan oleh orang tua Pipit dan Muluk. Uang haram telah mengalir di darah mereka. Kedua sahabat seperguruan pesantren itu menangis sejadi-jadinya. Meratapi jerih payah mereka selama ini untuk selalu jujur, selalu memberi makan dan membesarkan anak mereka dengan uang yang halah. Kenyataannya, anak mereka mendapatkan uang haram.</p>
<p>Di satu sisi, perbuatan mereka adalah budi luhur untuk membantu orang lain. Namun nilai agama mengutuki mereka. Menyudutkan apa yang mereka lakukan ke tempat yang haram, ke tempat yang salah, ke tempat yang dosa.</p>
<p>Ingatkan kata-kata Pipit? Seandainya Pipit anak orang kaya, tidak membutuhkan uang, dia akan melakukan pekerjaan itu, mendidik anak-anak itu tanpa mengambil bagian uang hasil mencopet mereka. Apa mau dikata, Pipit butuh uang untuk kehidupan sehari-harinya.</p>
<p><strong>DPR: Bukan Cerdas yang Dicari</strong></p>
<p>Jupri sang calon anggota legislatif. No urut 200 sekian (lupa euy) dari Partai Asam Lambung. Semua pasti tertawa begitu melihat apa yang ia tunjukan kepada Rohmah. Gambar ikan, itu saja. Leptop itu tidak untuk mengetik visi misi,program, dan renstra. Tidak untuk menjabarkan permasalahan rakyat dan penanggulangannya. Tidak juga berisikan data-data kebutuhan rakyat yang akan menjadi knstituennya.</p>
<p>Mungkin adegan ini mengingatkan kita pada satu peristiwa. Ketika anggota DPR menuntut untuk dibelikan leptop, dan kita pun bertanya-tanya. “Apa mereka semua bisa menggunakannya?”</p>
<p><strong>Penegak Hukum = Bos Mafia</strong></p>
<p>Dua orang berbadan besar, menghampiri Muluk, Jarot, dan kawan-kawan kecil kita. menegur dan bertanya, “Omset lagi gede ni?” Terlihat oleh kita, Jarot memberikan lipatan rupiah kepada salah satu dari mereka, dan mereka pun pergi.</p>
<p>Muluk pun bertanya siapa mereka. Anak-anak butuh pelindung. Jarot lah yang melindungi. Jarot pun butuh pelindung. Kedua orang itulah yang melindungi. Polisi, sudah pasti profesi itulah yang terlintas di kepala kita. mereka berdua pasti polisi.</p>
<p>Di banyak negara, mafia diburu. Mafia menjadi musuh penegak hukum. Mereka dengan gerakan bawah tanahnya senantiasa berhadapan dengan polisi. Tapi di Indonesia, di negeri yang alangkah lucunya ini, mafia berasal dari penegak hukum.</p>
<p><strong>(Belum) Indonesia Raya</strong></p>
<p>Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Cermatilah kata per kata lagu kebangsaan kita tercinta. Sungguh indah bukan? Sayangnya Indonesia Raya masih menjadi doa. Indonesia Raya belum menjadi nyata. “Amiiiiinnnn” pun menjadi kalimat yang paling cocok tuk diucapkan selesai menyanyikan Indonesia Raya.</p>
<p><strong>Pedagang Asongan vs Koruptor</strong></p>
<p>Pedagang Asongan diburu Sat Pol PP. Sementara koruptor dibiarkan bebas begitu saja. Kenapa? Karena koruptor tidak mengganggu jalan. Karena itu, daripada mengganggu jalan dengan berdagang asongan, lebih baik merusak jalan, dengan mengkorup dana pembangunan jalan tersebut sehingga pembangunannya tidak maksimal.</p>
<p><strong>Ending yang Menampar: Law in the book vs Law in action</strong></p>
<p>Muluk tampak tersenyum senang. Setelah mati-matian mengajarkan mereka. Memberikan pemahaman moral, pancasila, dan agama. Membuat mereka mengerti mana yang haram dan mana yang halal. Mendapat penolakan dan keengganan untuk berubah. Akhirnya kotak asongan yang dibelinya dipakai juga oleh Komet dan kelima temannya. Komet dan teman-temannya pun senang bisa melihat Muluk lagi. Mereka saling menyapa, melambaikan tangan dan tertawa bahagia. Syamsul pun pernah bilang , “kalau jadi tukang asongan, kalian tidak akan dikejar polisi lagi.”</p>
<p>Tiba-tiba tawa Muluk berubah. Kekhawatiran membayangi wajahnya ketika ia berteriak sambil berusaha keluar dari kobil. “Lari,” ujarnya. Komet dan kawan-kawan pun lari seketika. Mereka memang tak dikejar polisi, mereka juga tidak dikejar massa. Tapi mereka dikejar sat Pol PP yang siap menggaruk pedagang asongan, gelandangan, pengemis, dan anak jalanan.</p>
<p>Mencopet adalah pekerjaan haram. Risiko ditangkap, dipenjara, dan digebuki massa pun menjadi tantangan yang biasa. Dan ketika niat berubah sudah dilaksanakan, profesi mencopet sudah ditinggalkan, toh mereka dikejar-kejar juga.</p>
<p><strong>Satir Politik Tanpa Solusi</strong></p>
<p>Bagi yang berharap kisah ini akan berakhir bahagia, tidak akan menemukan apa yang dicari dalam film ini. Sepotong kalimat dari UUD 1945 mengakhiri film ini. Sepotong kata yang semakin absurd. Yang jelas diakui dan wajib dijalankan oleh negara karena tertuang dalam landasan hukum tertinggi negeri kita.</p>
<p>Film ini tak menyajikan akhir yang menjawab pertanyaan kita. Dia hanya menangkat realita yang ada. Yang dibenturkan dengan “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.” Satu tamparan besar bagi negeri ini. Apa yang ada di UUD, sama sekali tak terjadi.</p>
<p>Tanpa solusi, saya dan kawan-kawan beasumsi Dedy Mizwar pun tak menemukan solusi. <strong>Memangnya solusi apa yang bisa kita dapatkan dalam kondisi negeri sekarang ini?</strong> Saking ‘ajaibnya’ Indonesia. Saking ‘istimewanya’ sistem hukum kita. Tak ada solusi, di Negeri yang alangkah gilanya ini.</p>
<p>diulas oleh: <a href="http://dindanuurannisaayura.wordpress.com" target="_blank">Dinda Nuurannisaa Yura</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/publite.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/publite.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/publite.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/publite.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/publite.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/publite.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/publite.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/publite.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/publite.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/publite.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/publite.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/publite.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/publite.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/publite.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=publite.wordpress.com&amp;blog=12633188&amp;post=13&amp;subd=publite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://publite.wordpress.com/2010/04/18/ulasan-film-alangkah-lucunya-negeri-ini-satir-politik-tanpa-solusi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbeb4ab75646fd1531ddb5e96e00c964?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pohonilmu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://publite.files.wordpress.com/2010/04/lucunya1.jpg?w=299" medium="image">
			<media:title type="html">lucunya negeri ini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mafalda: awas! kecil-kecil progresif.</title>
		<link>http://publite.wordpress.com/2010/03/16/4/</link>
		<comments>http://publite.wordpress.com/2010/03/16/4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 06:18:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ya Basta</dc:creator>
				<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[satire]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://publite.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Hati-hati memberikan buku bacaan kepada anak. Tidak semua yang berlabel buku anak-anak itu ‘aman’. Ibu Mafalda memergoki putrinya menonton film dewasa yang beradegan ciuman, lalu mematikan TV dan menyuruhnya membaca Thumbelina saja. Ternyata di dalamnya ada kisah raksasa yang suka memakan anak-anak. Mafalda berpikir, “Aneh! Bukannya untuk usia berapa pun berciuman lebih baik daripada berbuat kejahatan?” Itulah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=publite.wordpress.com&amp;blog=12633188&amp;post=4&amp;subd=publite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hati-hati memberikan buku bacaan kepada anak. Tidak semua yang berlabel <a href="http://kolamkalam.files.wordpress.com/2010/03/mafalda.jpg"><img class="alignright" title="Karakter Mafalda yang digambarkan Mr. Quino" src="http://kolamkalam.files.wordpress.com/2010/03/mafalda.jpg?w=132&#038;h=166&#038;h=166" alt="" width="132" height="166" /></a>buku anak-anak itu ‘aman’. Ibu Mafalda memergoki putrinya menonton film dewasa yang beradegan ciuman, lalu mematikan TV dan menyuruhnya membaca Thumbelina saja. Ternyata di dalamnya ada kisah raksasa yang suka memakan anak-anak. Mafalda berpikir, <em>“Aneh! Bukannya untuk usia berapa pun berciuman lebih baik daripada berbuat kejahatan?”</em></p></blockquote>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Itulah sekilas bagaimana Mafalda dengan usianya yang masih kecil namun sudah begitu kritis memandang berbagai hal di sekitarnya. Di saat anak-anak seusianya lebih suka bermain boneka atau petak umpat, Mafalda lebih suka menghabiskan waktu luangnya dengan mendengarkan radio untuk mencari tahu kabar dunia di luar rumahnya. Mafalda juga senang terlibat dalam permainan “role play” bersama sahabat-sahabatnya dimana Mafalda akan berperan sebagai presiden.</span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Murid perempuan berpipi gembil dan berambut ijuk itu adalah tokoh rekaan kartunis Argentina, Joaquín Salvador Lavado, yang terkenal dengan nama Quino. Sejak terbit pertama kali pada tahun 1964, komik strip Mafalda langsung merebut hati pembaca Argentina. Celetukan-celetukannya mengkritik absurditas dunia orang dewasa dan kehidupan sosial pada umumnya. Cerdas, lugu, dan menggemaskan.</span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Bukan cuma di Argentina, ternyata. Meski komik strip Mafalda disudahi oleh Quino pada 1973, ia masih terus dibaca dan dicetak ulang. Komik ini total terkumpul menjadi 10 jilid dan sudah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa dunia. Bahkan, Umberto Eco pun memberikan pengantar pada edisi pertama versi Italia. Tidak hanya itu, pada 1976, Perserikatan Bangsa-Bangsa memakai Mafalda sebagai ilustrasi 10 tahun Konvensi Hak-hak Anak.<em>(http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/20/03000289/celetukan.kritis.si.pipi.gembil)</em></span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Mafalda dan teman-temannya juga sering terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan memusingkan tentang bagaimana dunia bekerja. Namun mereka selalu punya jawaban menarik dari sisi lain untuk saling memuaskan tanda tanya itu.</span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Tengok juga Susanita, karib perempuan Mafalda yang selalu jengah dengan pelajaran-pelajaran eksakta di kelasnya karena ia belum pernah menemukan relevansi pelajaran fisika dengan cita-citanya sebagai ibu rumah tangga yang baik.</span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Manolito lain lagi. Sedikit sering cekcok dengan Mafalda yang pro sosialisme, Manolito kerap kali berbangga dengan ideologi kapitalisme yang ia dapatkan secara tidak langsung dari kesehariannya membantu sang ayah di toko kelontongnya. Bagi Manolito, dimana ada permintaan selalu akan ada penawaran. Sialnya, cara penawarannya akan selalu halal. Termasuk mencoret-coret halte bus yang notabenenya fasilitas publik dengan tulisan : Toko Monolito, Pasti Murah.<br />
</span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Ada juga Felipe dan Miguelito yang selalu menambah rasa komik asal Argentina karangan Mr. Quino ini. Keduanya sama-sama sering linglung tentang hal-hal disekitarnya. Dan Mafalda akan senang sekali berdebat panjang dengan keduanya jika yang mereka tanyakan sudah berkutat pada isu globalisasi.</span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Terakhir, yang baru muncul di jilid ke-4, Guillermo. Adik baru Mafalda yang sepertinya punya watak yang tak jauh dari kakaknya.</span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">Bacalah komik ini, selain mengocok perut, kisah keseharian Mafalda dan teman-temannya sanggup membuat Anda berdecak kagum: Bagaimana bisa anak sekecil itu sudah punya pertanyaan-pertanyaan sebesar itu?</span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;">diulas oleh: <a href="www.fayola.co.cc" target="_blank">Arlinka Fayola</a><br />
</span></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/publite.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/publite.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/publite.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/publite.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/publite.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/publite.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/publite.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/publite.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/publite.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/publite.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/publite.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/publite.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/publite.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/publite.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=publite.wordpress.com&amp;blog=12633188&amp;post=4&amp;subd=publite&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://publite.wordpress.com/2010/03/16/4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbeb4ab75646fd1531ddb5e96e00c964?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pohonilmu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kolamkalam.files.wordpress.com/2010/03/mafalda.jpg?w=132&#38;h=166" medium="image">
			<media:title type="html">Karakter Mafalda yang digambarkan Mr. Quino</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
