Feeds:
Posts
Comments

Hari ini teman-teman Rombong Belajar Kukusan (RBK) mengadakan permainan sejenis Game of Life versi manual agar adik-adik pengunjung setia RBK makin mengenal diri dan kehidupannya. Caranya sangat mudah, kami membuat sejenis permainan ular tangga di papan tulis dan menyiapkan sebuah dadu sebagai acuan langkah setiap peserta permainan. Terdapat 15 kolom dengan beragam pertanyaan. Tapiiii.. pertanyaannya bukan hal-hal yang bersifat akademik. Sebaliknya, kami mencoba mengajak para adik RBK mengenal lebih jauh tentang dirinya sendiri. Misalnya:

1. siapa idola kamu? mengapa?

2. siapa guru kesenangan dan pelajaran kesukaanmu?

3. Siapa orang yang paling sering membuatmu tertawa?

4. Bantuan apa yang akan kamu berikan jika terpilih sebagai relawan di daerah bencana?

5. Sebutkan 10 kata dalam bahasa Inggris yang kamu ketahui!

6. Hadiah apa yang akan kamu berikan untuk sahabat baikmu?

7. Apa yang akan kamu beli/lakukan jika mendapatkan uang 1 juta rupiah?

dan masih banyak pertanyaan lainnya yang harus mereka jawab sesuai angka dadu yang keluar. Pertanyaannya bukan jenis pertanyaan tertutup, melainkan bentuk terbuka yang membuat mereka dapat lebih bebas mengekspresikan pikiran dan pendapat mereka tanpa perlu takut salah. Pada setiap kolom, adik-adik RBK akan belajar bagaimana enaknya jika pendapat kita dihargai, bagaimana rasanya mempertimbangkan perasaan orang lain, bagaimana rumitnya memutuskan tindakan yang harus segera dilakukan dan masih banyak lain.

Dari sekian banyak pertanyaan, kami sempat tertegun dengan jawaban dari salah satu adik kami dengan usia paling kecil yang duduk di kelas 2 SD. Dia “tersangkut” pada kolom pertanyaan: apa yang akan kamu beli/lakukan jika mendapat uang 1 Juta rupiah?. Dengan polos dan mata penuh harap, ia menjawab dengan sederhana: “ingin membeli kasur agar bisa ditempati berdua dengan kakak karena sampai sekarang kalau tidur masih di ubin.” Mendengar jawaban tersebut, kami yang awalnya mengira uang 1 juta tiada berarti justru dibuat terharu dengan jawaban seorang anak berusia 8 tahun itu. Sang kakak yang kebetulan sedang ikut bermain pun ikut mengangguk dan tersenyum seolah mengamini harapan sang adik. Siapa sangka, anak sekecil itu punya hati sebesar itu? ia hanya ingin punya kasur agar bisa dibuat tidur bersama kakaknya sendiri. Sungguh mulia.

Permainan “jalan kehidupan” ini ditutup dengan sebuah kolom yang berisi pertanyaan: “sebutkan 2 harapanmu untuk Indonesia?”. Lagi-lagi kami mendapati jawaban tak terduga dari adik-adik RBK, seperti:

1. Indonesia lebih aman dan kuat

2. tidak ada gempa dan gunung meletus lagi

3. Indonesia menang dalam pertandingan AFF.

hingga jawaban, “Semoga harga cabe turuuuuun!!!”.

 

ditulis oleh: Fitri Arlinkasari

Tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsur budaya. Materi yang dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu pula kegiatan-kegiatan mereka dan bentuk-bentuk yang dikerjakan juga budaya.

Agaknya pendekatan teori sosial budaya di atas tak berlebihan mengingat apa yang dilakukan oleh orang tua kita akan sangat melekat dalam diri kita, termasuk kepribadian dan bagaimana cara kita memandang serta memperlakukan dunia.

Teringat dengan jelas betapa karena ayah saya selalu berespon keras setiap saya berbohong, maka hingga kini pun saya paling benci dibohongi. Pun saat ibu saya begitu murka ketika tahu saya lalai mengerjakan tugas, membuat saya sekarang tak sudi dipertemukan dengan perilaku tidak disiplin.

Jauh sebelum manusia beranjak dewasa dan punya kuasa atas dirinya sendiri, mereka adalah sama: janin yang kemudian bertumbuh menjadi bayi. Perbedaan dari para manusia itu pun dimulai ketika mereka sukses menyelinap keluar dari liang rahim dan untuk pertama kalinya membuka matas atas dunia yang selama ini disinggahi kedua orang tuanya.

Sejak kali pertama bayi manusia menghirup oksigen, sejak itulah mereka mempelajari budaya dan mulai tunduk patuh pada nilai-nilai budayanya. Semua gambaran pembelajaran budaya sedari bayi ini saya dapatkan secara nyata dari film berjudul Babies yang baru minggu lalu saya tonton.

Dalam film tersebut dikisahkan tentang empat bayi yang tumbuh dalam kondisi geografis dan budaya yang berbeda-beda. Bayi pertama yang ditampilkan adalah seorang bayi Afrika tulen yang sejak lahir sudah terbiasa dengan teriknya mentari, kulit yang langsung terpapar radiasi matahari karena tak berpakaian, padang pasir dan aneka satwa lepas di tanah Afrika sana.

Bayi kedua seolah mengajak lari para penontonnya, saya diajak untuk mengintip indahnya tanah Mongolia dengan gugusan sabana-stepanya. Si bayi Mongol adalah seorang anak perempuan yang sedari lahir sudah dililit kuat tubuhnya dengan bedong hingga ia berusia kurang lebih 5 bulan. Bayi mongol dengan ibu yang seorang peternak, nampaknya amat lumrah ikut bermain dengan para sapi dan ikut “merumput”.

Bayi berikutnya yang tak kalah sipit adalah bayi Tokyo. Dengan kehidupan yang jauh lebih modern dibandingkan bayi Afrika dan bayi Mongol, bayi Tokyo sejak masih berada dalam kandungan sudah terbiasa dengan ritme musik sebagai peneman senam hamil sang ibu. Begitu lahirpun ia sudah mendapat cukup banyak fasilitas seperti permainan dan kunjungan liburan ke kebun binatang. Sayang, terlalu sibuknya kedua orang tua sang bayi, membuat ia juga cukup sering ditinggalkan dalam ruangan bersama permainan yang mulai bosan ia jamah.

Terakhir, bayi Amerika. Adalah dia yang lahir serta tumbuh di kondisi masyarakat yang jauh lebih jetset dan modern. Di usianya yang masih sangat belia, sang ibu sudah memperkenalkannya mandi menggunakan shower dan swirl pool. Tak hanya itu, ia lebih dini mendapatkan pengajaran baca tulis dan hitung menghitung. Konon, pengajaran usia dini dipercaya akan memabantunya lebih sigap dalam menjawab tantangan zaman.

Dari keempat bayi itu, para penonton akan belajar banyak tanpa merasa digurui. Kita semua akan melihat bahwa ada nilai yang diturunkan dari seorang ibu pada anaknya, dan ada “tata-cara” yang ditularkan dari lingkungan kepada individunya. Segala nilai, tata-cara, cara pandang, kepercayaan yang saling mengaduk itulah yang kemudian kita kenal secara hemat dengan istilah BUDAYA.

Ya, dengan cara apapun, seorang anak ketika terlahir untuk pertama kalinya maka ia akan belajar berbudaya. Hingga kelak ketika dewasa ia bisa mempertahankan budayanya, dan tidaklah mustahil kemudian meleburkannya dengan budaya baru. Sebab budaya, sekalipun diwariskan dan ditularkan tetap memiliki sisi toleransi yang beriring sama cepatnya dengan perubahan zaman. Tanpa sisi itu, seorang anak tentu akan sulit menanggapi perubahan yang terjadi di zamannya.

Di akhir film, sempat terlintas dalam benak saya: bagaimana jika akhirnya keempat bayi itu benar-benar bertemu dan dipersatukan dalam satu lingkungan baru. Tidakkah akan melahirkan kebudayaan yang baru sekaligus kaya? pasti menarik!

Diulas oleh: Fitri Arlinkasari

Perpustakaan Kami…

Sudah lama tak menyapa kawan-kawan semua. Nampaknya waktu membuat kita banyak berubah namun semoga tak menambah jarak. Sebaliknya, PUBLITE akan mencoba untuk tetap hadir sebagai salah satu sumber pengetahuan alternatif yang bisa diakses oleh siapa saja. Musik, buku, film, hadir semua untuk kawan semua.

Kabar teranyar dari PUBLITE adalah kami telah mendirikan sebuah perpustakaan publik di kawasan Depok, Jawa Barat sejak Mei 2010. Kesibukan komunitas Ya Basta menganggas dan mewujudkan perpustakaan publik ini agaknya cukup menyiata waktu dan tenaga kami hingga kami lupa bahwa masih ada satu ruang lain yakni PUBLITE yang juga perlu diurus.

Kedepannya, PUBLITE akan tetap hadir sebagai fasilitas pendukung perpustakaan Rombong Belajar Kukusan (RBK) dengan menghadirkan beragam informasi menarik seputar kegiatan di RBK dan tentu saja pengetahuan yang layak anda raup sebanyak-banyaknya.

Sekian dulu dan sampai jumpa!

Di mall kita usaha, di pasar kita jaya, di angkot kita kaya!


Sepenggal jargon itu adalah kata-kata penyemangat sahabat-sahabat kecil kita mengawali harinya sebagai pencopet. Mereka yang di mall, mereka yang di pasar, dan mereka yang di angkot, berlomba-lomba mencari sebanyak-banyaknya uang yang bisa mereka dapatkan. Suatu perjuangan yang keras bagi anak negeri ini. Anak-anak yang kata UUD 1945 harus dipelihara oleh negara. Yang harus mendapatkan hak atas pendidikan. Dan dilindungi dari kekerasan dan ancaman ketakutan.

Komet, Glen, Ribut, dan teman-temannya mendapatkan jauh dari itu. Untuk makan sehari-hari mereka harus mencopet. Itu pun hanya untuk makan. Pendidikan? Mereka semua tak bisa membaca, menulis, dan menghitung.

Di sisi lain, Jupri sedang memamerkan leptop barunya kepada Rohmah. Tercengang menikmati gambar ikan berwarna warni. Tahu bahwa leptop itu bisa digunakan untuk internet, untuk bisa mengetahui dunia. Kenyataanya leptop itu hanya dipakai untuk memandangi screensaver dan main game saja.

Realitas itulah yang diangkat Dedy Mizwar dan kawan-kawan dalam film bertajuk Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Komedi Satir yang mengungkapkan ‘keajaiban’ Indonesia.

Continue Reading »

Hati-hati memberikan buku bacaan kepada anak. Tidak semua yang berlabel buku anak-anak itu ‘aman’. Ibu Mafalda memergoki putrinya menonton film dewasa yang beradegan ciuman, lalu mematikan TV dan menyuruhnya membaca Thumbelina saja. Ternyata di dalamnya ada kisah raksasa yang suka memakan anak-anak. Mafalda berpikir, “Aneh! Bukannya untuk usia berapa pun berciuman lebih baik daripada berbuat kejahatan?”

Itulah sekilas bagaimana Mafalda dengan usianya yang masih kecil namun sudah begitu kritis memandang berbagai hal di sekitarnya. Di saat anak-anak seusianya lebih suka bermain boneka atau petak umpat, Mafalda lebih suka menghabiskan waktu luangnya dengan mendengarkan radio untuk mencari tahu kabar dunia di luar rumahnya. Mafalda juga senang terlibat dalam permainan “role play” bersama sahabat-sahabatnya dimana Mafalda akan berperan sebagai presiden.

Murid perempuan berpipi gembil dan berambut ijuk itu adalah tokoh rekaan kartunis Argentina, Joaquín Salvador Lavado, yang terkenal dengan nama Quino. Sejak terbit pertama kali pada tahun 1964, komik strip Mafalda langsung merebut hati pembaca Argentina. Celetukan-celetukannya mengkritik absurditas dunia orang dewasa dan kehidupan sosial pada umumnya. Cerdas, lugu, dan menggemaskan.

Bukan cuma di Argentina, ternyata. Meski komik strip Mafalda disudahi oleh Quino pada 1973, ia masih terus dibaca dan dicetak ulang. Komik ini total terkumpul menjadi 10 jilid dan sudah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa dunia. Bahkan, Umberto Eco pun memberikan pengantar pada edisi pertama versi Italia. Tidak hanya itu, pada 1976, Perserikatan Bangsa-Bangsa memakai Mafalda sebagai ilustrasi 10 tahun Konvensi Hak-hak Anak.(http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/20/03000289/celetukan.kritis.si.pipi.gembil)

Mafalda dan teman-temannya juga sering terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan memusingkan tentang bagaimana dunia bekerja. Namun mereka selalu punya jawaban menarik dari sisi lain untuk saling memuaskan tanda tanya itu.

Tengok juga Susanita, karib perempuan Mafalda yang selalu jengah dengan pelajaran-pelajaran eksakta di kelasnya karena ia belum pernah menemukan relevansi pelajaran fisika dengan cita-citanya sebagai ibu rumah tangga yang baik.

Manolito lain lagi. Sedikit sering cekcok dengan Mafalda yang pro sosialisme, Manolito kerap kali berbangga dengan ideologi kapitalisme yang ia dapatkan secara tidak langsung dari kesehariannya membantu sang ayah di toko kelontongnya. Bagi Manolito, dimana ada permintaan selalu akan ada penawaran. Sialnya, cara penawarannya akan selalu halal. Termasuk mencoret-coret halte bus yang notabenenya fasilitas publik dengan tulisan : Toko Monolito, Pasti Murah.

Ada juga Felipe dan Miguelito yang selalu menambah rasa komik asal Argentina karangan Mr. Quino ini. Keduanya sama-sama sering linglung tentang hal-hal disekitarnya. Dan Mafalda akan senang sekali berdebat panjang dengan keduanya jika yang mereka tanyakan sudah berkutat pada isu globalisasi.

Terakhir, yang baru muncul di jilid ke-4, Guillermo. Adik baru Mafalda yang sepertinya punya watak yang tak jauh dari kakaknya.

Bacalah komik ini, selain mengocok perut, kisah keseharian Mafalda dan teman-temannya sanggup membuat Anda berdecak kagum: Bagaimana bisa anak sekecil itu sudah punya pertanyaan-pertanyaan sebesar itu?

diulas oleh: Arlinka Fayola

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.